Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah (Bagian 2)



3. Meninggalkan Bid’ah-Bid’ah

Karena Allah ta’ala berfirman,

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al-A’raf : 3)

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Waspadalah kamu terhadap perkara-perkara baru, karena sesungguhnya setiap hal baru itu bid’ah”. (Shahih Sunan Abu Dawud, hadits 3851 )

Dan sabdanya pula,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ، رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ، وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam urusan kami (agama ) perkara baru yang bukan merupakan perkara agama maka ia tertolak”.(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Dari ‘Aisyah).

Dari ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata : janganlah kamu berbuat bid’ah dan berlebih-lebihan dalam agama. Wajib atas kamu berpegang teguh dengan perkara agama yang dahulu kala (ajaran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang murni. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (1/54) dan Ibnu Baththah dengan sanad yang shahih)

Dan ibnu al-Musayyib, bahwa ia pernah melihat seseorang melaksanakan sholat (sunnah) lebih dari dua rakaat setelah terbit fajar dan dia memperbanyak ruku’ didalamnya, maka beliau melarangnya. Orang tersebut berkata, “Wahai abu Muhammad, apakah Allah ta’ala akan mengazabku karena sholatku ini ?” beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi dia akan menyiksamu karena kamu telah menyelisihi sunnah (tuntunan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam).” {Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Syaikh Al-Albani menshahihkan sanadnya didalam Al-Irwa’ (2/236)}.

Imam Hasan bin Ali al-Barbahari (wafat pada tahun 329 H) berkata, “waspadahlah kamu terhadap perkara-perkara baru (dalam agama) yang kecil, karena bid’ah-bid’ah kecil itu jika sering dilakukan maka akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang diada-adakan dalam umat ini asal mulanya kecil, menyerupai al-haq, lalu orang-orang yang masuk kedalamnya menjadi tertipu, kemudian ia tidak bisa keluar darinya, sehingga hal itu (seakan-akan) menjadi suatu perkara agama yang harus dita’ati, maka ia pun menyimpang dari jalan yang benar, lalu keluar dari islam. Maka perhatikanlah, semoga Allah ta’ala merahmatimu. Setiap orang yang kamu dengarkan ucapannya, khususnya dari orang-orang yang hidup pada zamanmu, maka janganlah kamu tergesa-gesa dan masuk kedalamnya sehingga kamu bertanya dan meneliti terlebih dahulu, apakah ada seorang sahabat Nabi atau seorang ulama yang membicarakan perkara itu. Maka jika kamu mendapatkan sebuah atsar dari mereka yang membenarkannya, maka berpegang teguhlah dengannya dan jangan meninggalkannya. Jangan pula memilih jalan selainnya, karena kelak kamu akan jatuh ke dalam api neraka.” (Syarhus Sunnah, karya Al-Barbahari, hal. 68)

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Tidak ada alasan bagi siapapun dalam kesesatan yang dilakukannya sedang dia mengira sebagai petunjuk setelah jelas baginya as-sunnah.” (As-Sunnah, karya al-Marzawi, 95)

Ibnu Wadhdhah mengeluarkan dengan sanad yang rijalnya tsiqaah dari Abu Utsman an-Nahdi, ia berkata: Seorang pegawai (Gubernur) menulis surat kepada Umar bin Khaththab, bahwa disini ada sekelompok kaum yang berkumpul dan berdoa untuk kaum muslimin dan pemimpin muslimin. Maka Umar menulis surat balasan kepadanya, “Datanglah engkau bersama mereka” maka ia pun datang, Umar berkata kepada pengawalnya, “Siapkan Cambuk”. Maka tatkala mereka masuk menghadap Umar, beliau mencambuk pemimpin mereka dengan keras. (Lihat Al-Bida’ wan Nahyu ‘Anha, hal 26)

Imam Darul hijrah (Imam Malik) berkata, “Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan umat ini yang tidak pernah berada diatasnya generasi pertama umat ini, maka ia telah mengira bahwa Rasulullah berkhianat dalam menyampaikan risalah Allah ini, karena Allah telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah. Ayat 3)

Maka perkara-perkara yang bukan termasuk urusan agama pada waktu itu, berarti bukan termasuk urusan agama pula pada zaman sekarang ini. Keadaan akhir umat ini tidaklah menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat generasi pertama umat ini menjadi baik.”

Beliau juga pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Abu ‘Abdillah, dari manakah aku memulai ihram?” Beliau menjawab, “Dari Dzul Hulaifah dimana Rasulullah memulai ihram”. Orang itu berkata, “Aku ingin memulai ihram dari masjid (An-Nabawi), dari sisi kuburan”. Maka imam Malik berkata kepadanya, “Jangan kamu lakukan itu, karena aku takut terjadi fitnah pada dirimu”. Lalu ia berkata, “Fitnah apakah yang akan terjadi dalam hal ini? Ini hanyalah jarak beberapa mil saja yang aku tambahkan”. Jawab imam Malik, “Fitnah apakah yang lebih besar dari pada kamu mengira bahwa dirimu telah sampai pada sebuah keutamaan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah? Sesungguhnya aku telah mendengar firman Allah ta’ala :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur: 63)

(Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil Bar di dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah al-Kubra (1/261) dengan isnad laa ba’sa bihi)

Al-Hafizh al-Isma’ili (wafat pada tahun 371 H) berkata, “Imam-imam hadits berpendapat (wajibnya) menjahui bid’ah dan dosa-dosa, menahan diri dari gangguan serta meninggalkan ghibah (mengunjing orang lain) kecuali kepada orang yang menampakkan bid’ah dan dia menyerukan kepadanya, maka membicarakan kejelekannya menurut mereka bukan termasuk ghibah (yang diharamkan).” [I’tiqaad A’immatil Hadits, hal. 78]
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


[akhlaq dan nasehat][bleft]
[Fiqih][bleft]

Masjidil Haram Terkini

Masjid Nabawi Terkini