Antara Kebenaran dan Kebesaran







Kebenaran dan kebesaran, dua kata yang tak langsung bertautan secara makna. Akan demikian, ketika kita berbicara tentang keduanya sebagai sebuah  orientasi atau tujuan, maka kita akan menemukan kebertautan keduanya dalam hubungan yang antagonis (berlawanan).

Kita sedang menyoal dua jenis orientasi ini dalam konteks tujuan atau orientasi para penuntut ilmu rabbani (Ilmu Islam). Dalam proses menuntut ilmu Islam, dua tujuan ini akan niscaya memansukhkan satu sama lain. Sebab keduanya berada dalam hubungan benar dan salah.

Ada hal yang betapa menakjubkan, ketika rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda tentang orientasi para penuntul ilmu agama (Islam). Beliau seakan paham betul, sehingga di jauh hari mewanti-wanti umatnya untuk memurnikan niat dalam menuntut ilmu. Banyak sabda beliau yang terkait perihal di atas. Di antaranya beliau bersabda dalam sebuah hadits shahih:

لا تعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولا تماروا به السفهاء ولا تخيروا به المجالس فمن فعل ذلك فالنار النار


“Janganlah kalian menuntut ilmu dengan maksud berbangga di depan ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih-milih majelis untuk mencari perhatian orang dengannya. Barangsiapa yang melakukan itu maka dia di neraka, di neraka.“ (HR. Ibnu Majah No. 254, Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 1725,  Ibnu Hibban No. 77).

Di hadits yang  lain, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah –sampai sabda beliau- dan seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al-Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al-Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka...” (HR. Muslim no. 1905).

Masih banyak hadits semisal yang tidak akan kita sebutkan semuanya di sini. Namun yang terang, hadits-hadits tersebut bagai serangan psikologis ke pedalaman jiwa manusia yang memiliki kecenderungan untuk meraih kebesaran, ketenaran, kebanggaan dan semisalnya. Kecenderungan tersebutlah yang mesti `diamankan`. Karena semestinya, ilmu itu dicari untuk mendekatkan kita dengan kebenaran, dan menjadikan kita dapat hidup dengan benar (berdasarkan tuntutan Allah dan rasul-Nya).

Dalam pada itu, tentu hanyalah ilmu yang diraih dengan niat lurus yang akan benar-benar memberi kemanfaatan yang tetap bagi diri kita. Maka salah satu doa yang rasulullah perintahkan kepada kita adalah, untuk berlindung diri dari ilmu yang tidak bermanfaat, . Rasulullah membimbing kita untuk senantia berdoa:

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنۡ عِلۡمٍ لَا يَنۡفَعُ، وَمِنۡ قَلۡبٍ لَا يَخۡشَعُ، وَمِنۡ نَفۡسٍ لَا تَشۡبَعُ، وَمِنۡ دَعۡوَةٍ لَا يُسۡتَجَابُ لَهَا

“... Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu`,  nafsu yang tidak pernah puas, dan do`a yang tidak dikabulkan (HR. Muslim no. 2722).

Tentu saja, ilmu yang kita raih dengan ketidak-ikhlasan jiwa tak akan memberi manfaat, ia hanya menjadi kenikmatan semu. Ilmu yang tidak dituntut dengan niat yang lurus pun, akan sulit dapat berbuah sebagai amalan, hingga tak menambah bagi pemiliknya melainkan hanya kesombongan atau kebanggan diri, Ibnu Mas`ud radhiallahu`anhu pernah menuturkan: Siapa yang belajar ilmu (agama) lantas ia tidak mengamalkannya, maka hanya kesombongan pada dirinya yang terus bertambah.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair, hal. 75).

Dan terang saja,  kita melihat di dalam kehidupan kita, orang-orang yang belajar Islam, namun tidak bertambah bagi dirinya kecuali keangkuhan intelektual, yang satu langkah setelahnya adalah pembangkangan. Ya, karena kebanyakan, mereka mempelajari Islam bukan lagi untuk Islam, hatinya terpaut pada keinginan-keinginan akan tingginya prestise dan strata intelektual, agar teranggap dalam lingkungan sosial sebagai cendikiawan Islam. Allahulmusta`an.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita, agar di dalamnya senantiasa berdiam niat-niat yang lurus, hingga perjuangan kita dalam menuntut ilmu tidak terlepas dari orientasi meneguhkan kebenaran di dalam hati kita, serta mengamalkannya. Agar kita benar-benar dapat menginsyafi kebenaran dan kemudian hidup dengan benar. 

Ditulis oleh redaktur mukmin.net

Artikel mukmin.net
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

1 comment :

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete


[akhlaq dan nasehat][bleft]
[Fiqih][bleft]

Masjidil Haram Terkini

Masjid Nabawi Terkini