Disorientasi Umat






Sebenarnya agak tidak enak, saat harus `memotong pembahasan` hangat tentang kekuasaan (Pilkada 2017). Walau padahal, 2016 masih muda dan belum hendak menjadi 2017. Namun begitulah, perihal kekuasaan memang selalu punya lebih daya tarik. Walaupun, yang menarik tak berarti lebih penting, dan apa yang hendak diuraikan ke depan, menurut penulis agaknya lebih penting. Barangkali pula, dapat jadi sumbangan ideologis bagi calon-calon penguasa `teritori syariat` nanti, syukur-syukur bila memang ada calon yang ideologis.
Dalam tiap-tiap wacana pembangunan ekonomi, kita menyelipkan asa bahagia. Adapun yang datang setelahnya, seringkali adalah rusaknya kehidupan, tegasnya ketiada-adilan. Segera kita kemudian beramai-ramai mencari sumber kesalahan. Kita lupa, bahwa sebenarnya kesalahan itu ada pada diri-diri kita sendiri, mengenai bagaimana kita memandang diri dan dunia kita.
Pada saat lampau, yang disebut abad rasionalitas (pasca abad pertengahan), manusia merasa telah menemukan diri dan dunianya terlepas dari bahasa kitab suci. Sekularisasi dengan demikian memperoleh momentumnya dan seakan telah siap menenggelamkan siapa saja yang melawan arusnya. Ekses terbesar yang hingga kini masih kentara dari gagasan sekularisasi itu, adalah lahirnya orientasi yang serba materialistis. Segala hal kemudian diukur dengan pembangunan materi, termasuk tingkat kemuliaan peradaban. Terhadap aspek ruhiyah umat manusia menjadi begitu abai, lantas dalam belantara materialistis itu sebagai tanah manusia kian kemarau.
Yang menyakitkan, sekularisasi itu walau awalnya lahir dari trauma terhadap alam Barat-Kristen, lebih jauh melindas umat Islam yang pada akhirnya terbawa pada orientasi yang dangkal. Umat Islam, serta berbagai gerakan yang lahir dari rahimnya menjadi ikut-ikutan mendefinisikan kemuliaan peradaban dengan anasir-anasir yang serba materialistis. Tulisan ini akan menyoal perihal tersebut, yakni tentang  bagaimana umat Islam mendefinisikan kemuliaan eksistensialnya di dunia ini.
Terang saja, pada mayoritas generasi Islam kini, terutama kaum terpelajar, bila kita bercerita tentang kemuliaan peradaban, mereka segera terbayang pada perkembangan sains, kegilaan dalam pembangunan ekonomi atau kelimpah ruahan materi. Dalam gambaran seperti ini, generasi Islam hakikatnya sedang mengalami suatu kehilangan yang sungguh. Kehilangan teladan, yang membuat kita bingung atau bahkan gagal dalam mendefinisikan keberadaan kita sendiri di muka bumi.
Dengan demikian, dalam usaha membangun peradaban, kita tak lagi mencontoh pada yang sepatutnya dicontoh. Padahal, adakah peradaban yang memang lebih baik dari apa yang telah dibangun oleh Muhammad shallallahu alaihi wassallam? Sedangkan rasul Allah itu jauh hari di sana telah mengingatkan: Sebaik-baik generasi umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650). Jika ada dari generasi umat Islam yang meragukan ini, bisa dipastikan bahwa ia sudah mengalami disorientasi, sehingga memaknai sendiri secara keliru tentang makna kemuliaan eksistensialnya.
Kita mesti insyaf, bahwa kemuliaan peradaban itu bukan pada pembangunan materi, namun penyucian nurani. Sebagai umat yang mengimani bahwa semesta  adalah milik yang ilahi, kita tak boleh lupa, bahwa Allah yang menciptakan tidaklah mengutus seorang rasul pun dengan tujuan untuk mengajarkan kita meningkatkan prestasi konsumsi.  Allah subhanahu wata`ala berfirman:  
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيہِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ۬

Artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jum`ah: 2)
          Jelas dari ayat di atas bahwa tujuan diutusnya rasulullah adalah untuk mensucikan jiwa-jiwa kita. Dan apa yang Allah inginkan itu, adalah suatu syarat untuk memperbaiki keadaan umat manusia, yang sejatinya akan berada dalam kegelapan tanpa petunjuk yang ilahi. Apa yang telah diwahyukan Allah, layaknya sebuah informasi, ilmu, yang dengan sebabnya kita mampu mewujudkan tatanan kehidupan umat manusia yang adil (seimbang).
Adapun realitasnya, umat Islam sendiri yang memiliki wahyu universal dalam kitab suci Al-Quran yang resisten terhadap penyimpangan (boleh diuji), merasa tak percaya diri untuk tunduk pada suara langit. Dalam pada itu mereka merasa harus mencari inspirasi-inspirasi lain dari peradaban Barat yang tak pernah konsisten itu. Sebagaimana kita menyaksikan mereka lari dari satu kutub ekstrim ke kutub ekstrim yang lainnya. Dari modern, dan kini katanya posmodern, kemudian setelahnya entah apalagi dan mau kemana lagi. Lalu dengan diimami oleh Barat, di tengah menggilanya pembangunan ekonomi, jutaan umat manusia mengutuk ketidakadilan, dalam keadaan mereka sebenarnya sudah tak adil kepada Penciptanya sejak dalam pikiran.
          Akan tetapi, sebagai orang yang beriman kita juga diajarkan untuk insyaf, bahwa ternyata mengharapkan keluhuran total dan kelurusan universal pada umat manusia hanyalah andaian. Sebagaimana Allah berfirman:
 وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَأَمَنَ مَن فِى ٱلۡأَرۡضِ ڪُلُّهُمۡ جَمِيعًا‌ۚ أَفَأَنتَ تُكۡرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ
Artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS. Yunus: 99).
Artinya, terhadap orientasi (pilihan) hidup orang lain kita memang tak dapat memaksa. Sebabnya, jaminan kelurusan hidup itu otoritasnya Allah. Akan demikian, tiap orientasi dan pilihan selalu ada konsekuensinya. Karena oleh Yang Maha Kuasa kehidupan hadir sebagai proses seleksi atau ujian. Ia sendiri yang telah berfirman:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ
Artinya: “(Allah) yang telah menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kalian (siapa) yang lebih baik amal perbuatannya”...(QS. al-Mulk: 2).
Adakah bila demikian kita tak usah lagi mengusahakan perbaikan? Tentu saja perbaikan bagi kehidupan umat manusia adalah kerja abadi kita di dunia sebagaimana tugas ini telah diemban oleh para utusan Allah. Allah ta`ala telah berfirman:
وَمَا نُرۡسِلُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ‌ۖ فَمَنۡ ءَامَنَ وَأَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡہِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Artinya: "Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati". (QS. al-An'aam: 48).
Solusi yang perlu kita segerakan adalah, ikhtiar reorientasi umat melalui konseptualisasi dan manisfestasi pendidikan Islam dengan merujuk pada pandangan dunia Islam (islamic worldview). Di dalam tubuh umat ini, pendidikan perlu dihadirkan kembali sebagai upaya pemerataan kesadaran bahwa hidup bukanlah ajang penumpukan kekayaan dan memulung segudang tepuk tangan. Konsep pendidikan Islam mesti dibangun kembali secara serius dengan pondasi yang sebenarnya sudah cukup tegas dan tetap, bahwa Allah telah menetapkan:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Artinya: “Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Ad-Dzariyyat: 56).
Untuk itu, unsur yang mutlak diperlukan hadir dari konseptualisasi pendidikan kita adalah, tashfiyyah (pemurnian ajaran), tarbiyyah (pendidikan/pengajaran ilmu rabbani), tazkiyyah (penyucian jiwa). Unsur-unsur ini adalah syarat kolektif yang tidak boleh alpa dalam upaya menciptakan manusia Islam yang hanif.    
Khusus untuk Aceh, upaya tersebut harusnya lebih mudah dimulai. Tapi agaknya, alam pikiran kita tentang pelaksanaan Syariat Islam masih lebih sering menyempit, hingga gagal menyentuh yang lebih esensial. Kapan Aceh memulai? Untuk kemudian dunia melihatnya sebagai teladan. Bukankah katanya dahulu kita pernah begitu menawan?


Penulis : Nauval Pally Taran
  
Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Harian Serambi Indonesia: serambinews.com, dan disadur kembali oleh redaksi mukmin.net dengan beberapa penyesuaian.

Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

1 comment :

  1. I'm interested in your article
    I also have the same article that you can read in http://ps-tsi.gunadarma.ac.id
    thank you

    ReplyDelete


[akhlaq dan nasehat][bleft]
[Fiqih][bleft]

Masjidil Haram Terkini

Masjid Nabawi Terkini